Makalah

Kamis, 11 Mei 2017

KESAN DAN PESAN SELAMA MENGIKUTI IPM (IKATAN PELAJAR MUHAMMADIYAH)

Kesan & Pesan Selama Mengikuti IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) Cabang Sugio dan Ranting Singgang

Oleh:
Muhammad Fuji Saputro (NBA: 13.24.30861)
Selama kurang lebih 5 tahun saya berkecimpung di IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) baik di lingkup ranting maupun cabang. Sudah banyak hal yang saya dapatkan, senang, susah, dan sedih saya jalani di organisasi ini. Namun disatu sisi saya bisa mengenal dengan banyak teman (ranting, cabang ataupun daerah) dan juga banyak pengalaman yang saya dapatkan disini. Pengalaman tersebut timbul dari rapat maupun kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh IPM, baik ranting maupun cabang. Saya akan menguraikan beberapa pengalaman saya tersebut, yang pertama adalah dari sisi mental dan potensi diri bisa berkembang dan maju. Hal ini terbukti saat saya memimpin rapat pembentukan kultum, dan pelaksanaan kultum yang akan dilaksanakan seusai shalat maghrib di Masjid Muhammadiyah Ranting Singgang selama satu bulan yang beragendakan dua sampai tiga kali. Di dalam rapat tersebut saya sebenarnya malu untuk berbicara dan mengatur rekan-rekan saya di IPM Ranting Singgang, namun saya berpikir malu tidak ada gunanya jika saya tidak melakukan atau berbuat salah. Setelah pikiran tersebut muncul, saya kemudian memimpin rapat dan menjadwalkan beberapa teman yang siap untuk kultum, dan jadwal ini sudah saya atur untuk tiga bulan kedepan dengan orang yang berbeda-beda.
Saya sebelumnya memang jarang tampil di depan banyak orang, disaat saya tampil kultum pertama kalinya pada agenda IPM ranting tersebut, saya merasa grogi dan gemetaran, namun saya banyak berdo’a dan akhirnya rasa grogi dan gemetaran sudah hilang dengan sendirinya, karena menyesuaikan dengan keadaan juga. Untuk kultum-kultum berikutnya, saya sudah terbiasa dan bisa menyesuaikan diri dengan para jama’ah, hal yang paling positif yaitu agak bisa menguasai panggung. Pengalaman saya ini selaras dengan para partner saya di IPM Ranting Singgang yang sebelumnya mereka memang malu-malu untuk tampil di depan banyak orang, dan tidak percaya bahwa mereka bisa tampil didepan banyak orang. Namun saya memberikan masukan-masukan untuk mereka dan saya percaya penuh kepada mereka, sehingga pada gilirannya mereka mau tampil di depan para jama’ah. Dengan berjalannya kegiatan ini selama kurang lebih satu tahun, banyak para jama’ah Muhammadiyah Ranting Singgang yang mengapresiasi, karena hal ini sangat bagus untuk melatih mental, dan pengembangan potensi. Itulah tadi beberapa hal mengenai kesan diri saya di IPM, dan teman-teman yang ada di PR IPM Singgang. Berikut ini adalah pandangan saya mengenai IPM dan IPM Cabang Sugio.
IPM merupakan organisasi yang pernah berkali-kali mendapatkan predikat OKP (Organisasi Kepemudaan) terbaik dari Mentri Pemuda dan Olahraga RI. Dari hal ini seharusnya IPM harus lebih giat lagi dalam berorganisasi dan dalam melaksanakan kegiatannya. Jangan sampai predikat yang telah diraih ini hanya sebagai perolehan semata tanpa adanya timbal balik dari struktural IPM dan para anggota di dalamnya. Hal yang lebih miris lagi dan mengkhawatirkan yaitu, apabila IPPNU menggeser atau mengambil alih OKP terbaik tersebut dari IPM. Jika hal ini terjadi maka IPM harus merasa malu, karena secara kurun waktu, kita yang lama berdiri dari pada mereka. Kita yang lebih berpengalaman daripada mereka. Apabila hal ini tidak ingin terjadi, maka dari lingkup pusat, wilayah, daerah, cabang, dan ranting harus saling bersinergi dalam membangun IPM dimasing-masing struktural tersebut. Sehingga dengan melaksanakan hal tersebut, organisasi ini bisa berjalan dengan semestinya dan menjadi organisasi yang berkualitas tidak hanya unggul dalam aspek kuantitas saja. Jangan sampai IPM terbuai maupun terninabobokkan dengan predikat OKP terbaik tersebut, karena predikat tersebut bisa diambil alih oleh organisasi lain yang lebih bagus dalam segi keorganisasian dan keanggotaannya.
Dengan berjalannya waktu yang begitu cepat, dan teknologi yang semakin hari semakin masif saya takut apabila orang-orang, khususnya dilingkup Ormas Muhammadiyah menjadi individualis. Hal demikian akan berpengaruh pada ortom-ortom di Muhammadiyah, ini sudah mulai terjadi sekarang. Pada saat rapat ataupun kegiatan lainnya, banyak yang tidak mendengarkan atau mengapresiasi yang berbicara, ada oknum-oknum yang senang bermain ponselnya sendiri. Jika hal ini terjadi, maka rasa malas pasti timbul pada masing-masing jiwa tersebut, dan akibatnya yaitu akan jarang mengikuti kegiatan, lebih parahnya lagi yaitu tidak akan mengikuti kegiatan yang diadakan. Sistem moral, demokrasi, apresiasi, dan lapang dada saat berbeda pendapat haruslah menjadi yang utama dan harus diterapkan dalam berorganisasi. Sehingga organisasi apapun jika menerapkan hal ini akan menjadi organisasi yang sukses dan maju, karena sikap dan cara kita berbicara atau cara mengungkapkan perbedaan pendapat itu menjadi hal yang vital, lebih-lebih lagi yaitu cara pandang kita mengenai menghargai orang lain itu yang sangat penting. Sejatinya setiap orang itu berbeda, pikiran antara satu orang dengan orang yang lain pun berbeda. Jika kita melihat, pada ruang lingkup organisasi memiliki banyak anggota, dan diantara anggota satu dengan anggota lainnya berbeda,  lalu diantara anggota dan penggurus pasti memiliki persepsi yang berbeda pula. Dari timbulnya problem tersebut, maka problim solvingnya yaitu peran ketua haruslah menjadi penengah dan menjadi pengambil keputusan tanpa berpihak bagi siapapun.
Pandangan saya mengenai IPM Cabang Sugio selama ini yaitu, anggota dan penggurus kurang begitu kompak dan komunikasi kurang berjalan lancar. Karena yang penggurus merasa mempunyai kekuasaan dan bawahannya  (anggota) dianggap tidak memiliki andil dalam menjalankan roda organisasi. Hal ini harus diminimalisasi, karena penggurus tanpa adanya bantuan dari anggota pasti dalam menjalankan kegiatan sulit berjalan. Beberapa hal yang harus ditekankan lagi yaitu pengakraban antar anggota dengan anggota maupun penggurus dengan anggota. Sehingga dengan melakukan beberapa tips tersebut diharapkan IPM bisa ­kembali mengepakkan sayapnya dan kembali terbang tinggi dalam berorganisasi maupun kegiatan yang akan dilakukan. Jika kita melihat kegiatan-kegiatan IPM Cabang Sugio di akhir-akhir ini kurang terexspose oleh masyarakat umum, ini berbuntut pada penilaian masyarakat bahwa IPM sekarang ini tidak produktif lagi, berbeda halnya seperti 2-3 tahun yang lalu bahwa IPM didamba-dambakan di masyarakat dan dikenal di kalangan masyarakat akan kegiatan yang agamis dan merangkul masyarakat umum dan khusunya warga masyarakat Muhammadiyah sendiri.
Pesan saya maupun solusi untuk memperbaiki berbagai permasalahan tersebut yaitu yang pertama, IPM harus menjadi teladan bagi para pelajar (SD, SMP, dan SMA). Maksudnya adalah para kader IPM yang sejatinya sebagai kader yang militan dan bergerak pada amar makruf nahi munkar, haruslah menepati janji dan berkomitmen. Kalau sudah masuk dalam keanggotaan maupun kepenggurusan IPM, janganlah ikut-ikutan dalam modernisasi yang kurang positif, takutnya jika melakukan hal tersebut maka orang lain yang disekitar kita akan berpresepsi bahwa kita tidak mempunyai moral yang tangguh maupun berpendirian. Orang yang bergelut di IPM harus berbeda dari orang yang tidak ber-IPM.
Solusi yang kedua yaitu, membangun mental para kader IPM, yang dimaksud adalah kader IPM haruslah bermental baja. Cara yang harus dilakukan yaitu saling memberikan dorongan untuk perkembangan mental masing-masing anggota, sehingga tidak hanya beberapa saja yang andil dan berkontribusi di kegiatan-kegiatan. Setiap ada kegiatan haruslah memiliki panitian kegiatan yang berbeda-beda, dan harus adanya rasa saling kepercayaan antar anggota dan penggurus saat kegiatan berlangsung. Sehingga dengan adanya kepercayaan tersebut, maka akan timbul rasa kemauan dan kemampuan di dalam diri. Diharapkan dengan menerapkan solusi ini, IPM bisa menjadi organisasi atau perkumpulan yang bermanfaat bagi generasi dan penerus bangsa ini. Solusi tersebut bisa dilakukan jika dari individu masing-masing rela dan mau menerapkan apa yang telah menjadi problem solving tersebut. Akhir kata, tetaplah menjadi organisasi yang menginspirasi bagi organisasi-organisasi lain dimanapun dan tetaplah berpegang teguh pada jati diri IPM dan Muhammadiyah. “Nuun walqolami wama yasturun”
Sumber: fujisaputro.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar