Makalah

Kamis, 11 Mei 2017

Pendidikan, Antara Memintarkan Manusia atau Memintari Manusia yang Lain

Pendidikan, Antara Memintarkan Manusia
atau Memintari Manusia yang Lain
M. Fuji Saputro (Ekonomi Pembangunan, UTM) 
Mengacu pada persaingan dunia yang semakin hari semakin sengit dan tidak bisa terelakkan, maka jawaban yang tepat untuk permaslahan ini yaitu memacu diri untuk berpendidikan. Karena pendidikan merupakan alat penting yang diterapkan dalam dunia kontemporer untuk mencapai keberhasilan dalam segala bentuk persaingan global, karena dengan pendidikan bisa meringankan tantangan yang dihadapi dalam kehidupan kita di masa yang akan datang. Pengetahuan yang diperoleh melalui dunia pendidikan memungkinkan potensi individu untuk dimanfaatkan secara optimal karena pelatihan dari pikiran sumber daya manusia. Hal ini akan membuka pintu kesempatan memungkinkan individu untuk mencapai prospek yang lebih baik dalam jenjang pertumbuhan karir. Di Indonesia sudah menjadi sebuah hal yang membudaya bahwa proses pendidikan di sekolah masih banyak yang mementingkan aspek kognitifnya ketimbang psikomotoriknya, masih banyak guru-guru di setiap sekolah yang hanya asal mengajar saja agar terlihat formalitasnya, tanpa mengajarkan bagaimana etika-etika yang baik yang harus dilakukan dan diajarkan kepada anak didiknya.
Pada kurun waktu beberapa tahun terakhir ini, Indonesia dibuat heboh oleh pejabat publik yang bergantian keluar masuk penjara karena kasus korupsi. Tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran oknum-oknum yang melakukan tindak pidana korupsi tersebut. Mereka hanya mementingkan dirinya sendiri, ingin memperkaya dirinya dan engan memikirkan orang lain, sehingga jalan yang ditempuh yaitu dengan cara melakukan korupsi. Hal yang menarik yaitu, mereka sudah tidak mengimplementasikan janji dan sumpah jabatan yang telah mereka ucapkan kemudian mereka lalai dalam mengemban amanah rakyat, mereka juga tidak memikirkan bahwa uang yang dikorupsi tersebut adalah uang dari rakyat yang harus dikelola supaya menjadikan bangsa Indonesia ini menjadi maju. Inilah sebuah tamparan keras bagi bangsa Indonesia yang harus membangun manusianya, sehingga kelak bisa menjadi manusia yang berkarakter jujur, adil dan amanah. Hal yang disudutkan dari adanya korupsi adalah dari bidang pendidikan, masyarakat menganggap bahwa orang yang berpendidikan itu memiliki etika yang tinggi, akan mudah mengelola sebuah negara dan dapat dipercaya oleh masyarakat. Namun, ini semua bertolak belakang dari apa yang diharapkan oleh masyarakat.
Data yang diperoleh dari Litbang kompas menyebutkan bahwa ada permasalahan mengenai korupsi sebagai berikut:
  • 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011
  • 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011
  • 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI
  • Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti Kementrian Agama, KPU, KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM
Hal ini menunjukkan bahwa sebuah kesempatan dari jabatan itu menjadi sebuah hal yang harus dimanfaatkan oleh beberapa orang yang berpikiran licik. Korupsi terjadi itu karena adanya kesempatan dan jabatan yang mereka miliki. Indonesia harus berbenah lagi dari segala sisi, haruslah ditanamkan sikap jujur oleh para masyarakat, sehingga dikemudian hari menjadi pejabat, maka tidak akan menjadi pejabat yang korup.
Di dalam buku tentang Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligences), Daniel Goleman menjelaskan  kepada kita bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan diperlukan 80%, sementara kecerdasan intelektual hanyalah 20% saja. Dalam hal inilah maka pendidikan karakter diperlukan untuk membangun kehidupan yang lebih baik dan beradab, bukan kehidupan yang justru dipenuhi dengan perilaku biadab. Maka terpikirlah oleh para cerdik pandai tentang apa yang dikenal dengan pendidikan karakter (character education). Jika menilik dari hal tersebut, maka sangat cocok diterapkan untuk membangun moral para masyarakat Indonesia. Salah satu solusinya yaitu menerapkan pendidikan karakter, karena hal ini memang memiliki nilai positif bagi insan yang telah mendapatkan hal tersebut. Pendidikan karakter sudah gencar dilakukan di sekolah-sekolah mulai 5 tahun terakhir ini, namun yang kurang tepat dari pendidikan karakter yaitu baru diterapkannya pada  masa jenjang Sekolah Dasar (SD).
Sekarang mengenai karakter ini haruslah dimulai dari buaian ibu, harus kita tanamkan kepada anak – anak penerus bangsa diantaranya adalah kejujuran. Kejujuran adalah hal yang paling pertama harus kita tanamkan pada diri kita maupun anak – anak penerus bangsa karena kejujuran adalah benteng dari semuanya, demikian juga ada pilar karakter tentang keadilan, karena  seperti yang dapat kita lihat banyak sekali ketidakadilan khususnya di Negara ini. Selain itu harus ditanamkan juga pilar karakter seperti rasa hormat. Hormat kepada siapapun itu, contohnya adik kelas mempunyai rasa hormat kepada kakak kelasnya, dan kakak kelasnya pun menyayangi adik – adik kelasnya, begitu juga dengan teman seangkatan rasa saling menghargai harus ada dalam diri setiap murid –  murid agar terciptanya dunia pendidikan yang tidak ramai akan tawuran. Sekarang mulai banyak sekolah – sekolah di Indonesia yang mengajarkan pendidikan karakter  menjadi mata pelajaran khusus di sekolah tersebut. Mereka diajarkan bagaimana cara bersifat terhadap orang tua, guru –guru serta lingkungan hidup mereka.
Semoga saja dengan diterapkannnya pendidikan karakter di sekolah maupun di lingkungan keluarga, semua potensi kecerdasan anak –anak akan dilandisi oleh karakter – karakter yang dapat membawa mereka menjadi orang – orang yang diharapkan sebagai penerus bangsa. Bebas dari korupsi, ketidakadilan dan lainnya. Sehingga nantinya akan makin menjadi bangsa yang berpegang teguh kepada karakter yang kuat dan beradab. Walaupun mendidik karakter tidak semudah membalikan telapak tangan, oleh karena itu ajarkanlah kepada anak bangsa pendidikan karakter sejak dini.
Sumber: fujisaputro.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar